Melahirkan duka yang tak berujung, melagukan kesedihan berpianokan nelangsa
Entah derita terpancar bermakna
Disela keyakinan tak bernilai bagi alam
Terhenyak syukur mengharap ridho berpalung pasti
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kenangan itu terus tersimpan dalam pikiran. Mengerjakan PR bersama walaupun banyak mainnya.
Sekarang wajah itu kembali bertemu dalam ukhuwah, tertawa kecil mengingat masa-masa indah di MAN Cikarang. Kadang terselip cela yang memuncahkan riang canda.
Senyum si kecil meramaikan suasana, walau tidak semua mempunyai. Berharap nuansa ini terua bersemi hingga anak cucu.
My Dear
Hanifeh
Uun Mulyati
Ratna Dewi
Nuliyah Nurjanah
Sri Yulia Bagjawati
3 IPA 3 All member
Dengan kata
Aku mampu berucap
Dengan kata
Aku mampu merasa
Dengan kata
Aku mampu membaca
Dengan kata
Aku mampu menulis
Tanpa kata
Aku hampa
"Nak, ayo cepat kamu bereskan pakaianmu" Bunda bicara dengan mata yang berkaca-kaca, "Mau kemana, Bunda?" Jawabku penasaran.
Tak dijawab pertanyaanku, sambil berlalu akupun pergi menyiapkan pakaianku beberapa potong dan aku masukkan ke dalam tas ransel merah jambu kesayanganku.
Sementara Bunda juga menyiapkan segala keperluannya dan dia membawa beberapa potong roti beserta air minum.
"Mau kemanakah kita, Bunda?" Aku mengulang pertanyaan, rasa penasaranku semakin memuncak, berbagai pertanyaan hadir dalam pikiran.
"Apa mungkin Bunda dan Ayah belum bayar cicilan rumah?" Pikiranku mencoba menerawang,
"Sudah siap" Tanya bunda, "Sudah Bunda" Jawabku.
Dengan tergesa-gesa Bunda menarikku untuk segera pergi, diberhentikannya mobil angkot dan rasa penasaranku semakin bertambah.
Dengan terbata Bunda menjelaskan "Ayah sekarang di rumah sakit, keadaannya kritis", "Sakit apa Ayah, Bunda?" Tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
Kulihat Ayah terbaring dengan wajah pucat pasi, dan dipenuhi dengan banyak selang ditubuhnya, entah sakit apa yang dideritanya, Bunda tak mampu menjelaskannya kepadaku.
Tanpa berpikir yang aneh-aneh tentang kondisi Ayah akupun mengeluarkan syamil quran dan membacanya. Bunda hanya tersenyum melihatku mengaji di hadapan Ayah yang sedang bertarung dengan penyakit.
Selesai mengaji Bunda menghampiriku dan bertanya "Siapa yang suruh kamu membawa Qur'an?", "Ayah pernah berkata kepadaku, jika dalam keadaan kita sedih dan senang bawa selalu Qur'an dan Ayah juga berpesan untuk selalu mengaji setiap hari" Jawabku. Bundapun tersenyum.
Wajah itu mulai mengernyitkan dahinya. Memandang kalender di sudut dinding menunjukkan bulan mei.
Waktu yang sebenarnya dinantikan namun untuk sebagian murid sangat menyebalkan. Bayangan berpuluh-puluh soal menghantam imajinasi.
Pastinya sang pendidik-pun mengeluarkan berbagai macam teknik pengajaran agar materi yang disampaikan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Alhasil, hanya rentetan nilai akademik yang dipikirkan. Namun mengenyampingkan nilai afektif dan pastinya sering dilupakan bahkan tak terpikirkan nilai estetika murid.
Nilai menjadi acuan, kejujuran dikesampingkan. Bahkan moral terabaikan.
Adab dalam mengerjakan soal ujianpun tak lagi di ajarkan. Yang penting dia bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di kertas lembar putih. Bahkan yang mengoreksinyapun bukan manusia, melainkan sebuah komputer.
Jadilah anak didik yang kaku. Haruskah wajah pendidikan Indonesia terus seperti ini. Semoga tidak
Hanya kejujuranlah yang mampu menjadikan sebuah nilai kecil namun besar dalam pengorbanan untuk mengikuti hawa nafsu kedustaan pada diri.
Keberkahan ilmu akan terasa mungkin tidak hari ini. Tapi pastinya akan berlaku. Karena janji Ilahi itu pasti tak pernah diingkari.
Masa indah ini akan selalu kalian kenang dan akan terus mengiringi langkah kalian menuju masa depan
Mungkin hanya sedikit bahkan hanya setitik ilmu yang ibu torehkan semiga berharga dalm hidup kalian
Doa ibu menyertai
Semoga kalian mempunyai masa depan yang cerah secerah senyuam yng selalu menyeringai di sudut bibir itu